Monday, November 10, 2008

Muslim Negarawan: Spirit kebangkitan Bangsa, Harapan Di Balik Kepenatan Ruang Muktamar (Refleksi Perjalanan Muktamar KAMMI VI)

Oleh : Arif Atul M Dullah
( Mahasiswa FKM Unhas Angkatan 2005 )

Muktamar VI KAMMI resmi di tutup pada tanggal 9 November 2008. Banyak moment, banyak kisah, banyak kejadian yang menjadi rangkaian yang menghiasi perjalan Muktamar yang berlangsung di LAN Antang ini. Mulai dari cerita kesuksesan sampai kepada kisah pilu yang di alami oleh beberapa kader KAMMI, secara khusus kita menyebut Taufik Amrullah (ketua KAMMI) dan Rahman Thoha (Sekjen KAMMI) yang terpaksa tidak dapat mendampingi ayahandanya saat meninggal. Ada banyak sudut yang bisa menjadi perhatian kita. Namun, dari semuanya, ada satu hal yang paling menjadi sorotan mata peserta muktamar. Tentang siapa yang kelak menduduki kursi 01 KAMMI? dan setelah melalui prosesnya terpilihlah Rahman Thoha Budaiarto sebagai ketua KAMMI Pusat 2008-2010

Ada harapan besar yang ingin kita titipkan dari sekian banyak moment dan peristiwa yang menghiasi muktamar, dibalik kepenatan ruang pertanggungjawaban dan pilihan siapa yang paling tepat untuk mengatur arah KAMMI kedepannya adalah bahwa KAMMI harus lebih baik, harus dapat tampil sebagai inisiator setiap agenda perbaikan.

Daya kritis terhadap semua agenda yang telah dilakukan oleh pengurus KAMMI sebelumnya adalah sebuah catatan perbaikan kedepan, karena kata Rasulullah SAW “…Sesungguhnya orang-orang yang beruntung itu adalah orang yang hari ini lebih baik dari kemarin”. KAMMI juga harus demikian.
Jargon “ Muslim Negarawan” haruslah tidak sekedar ide dalam tataran teori. Tapi, ia harus terlihat dalam cermin realitas, karena kata Rasulllah“ Iman itu bukanlah angan-angan.” Ia harus berwujud dalam tataran praktis. Juga karena bangsa ini, tidak butuh orang yang hanya bisa mengatakan bahwa ini solusi masalah kita sekarang. Tapi KAMMI sudah harus mengatakan bahwa apa lagi yang hendak kami selesaikan dengan konsep Muslim Negarawan.

Muslim Negarawan, hari ini, dalam realitas bangsa yang sangat terpuruk memang menjadi hal yang niscaya. Sudah saatnya, Kader Muslim Negarawan tampil untuk menghadirkan solusi -sekali lagi bukan dalam tataran teori non-aplikatif -. Inilah tantangannya. Tapi, Kader Muslim Negarawan harus merebut momentum itu. Momentum perbaikan untuk hadir sebagai solusi.

Muslim Negarawan, Alternatif Kepemimpinan Solusi Bangkit Indonesia

Dalam momentum 100 tahun kebangkitan nasional, bangsa ini sedang dihadapkan pada realitas untuk tidak sekedar memperingati kebangkitan nasional lagi. Bangsa ini telah mengalami krisis yang begitu parah, yang telah lama tenggelam dalam keterpurukan yang hampir tak berujung. Maka, jika kita mendiagnosis akar masalahnya maka kita akan menemukan satu kesimpulan bahwa masalahnya adalah pada kepemimpinan. Kita bisa mengambil analogi berikut, bahwa Negara ini bisa kita analogikan sebagai sebuah kapal, dimana Nahkodalah yang mengatur kendali jalannya kapal. Demikian pula Negara ini, baik tidaknya perjalanan sebuah Negara menuju kemandirian dan kemajuannya, sebagaian besarnya ditentukan oleh pemimpinannya.

Konsep Muslim Negarawan adalah solusi yang ingin KAMMI, anak-anak muda negeri ini coba tawarkan sebagai solusi kepemimpina kebangkitan bangsa. Coba amati secara objektif. Maka kita akan menemukan sebuah realitas bahwa kepemimpinan negeri ini telah mengombang-ambing negeri ini pada arah yang tidak jelas.

Muslim Negarawan yang merupakan perpaduan dua kata ini, adalah interpretasi dari sosok ” Pemimpin Masa Depan yang tangguh” sebagai mana yang termaktub dalam Visi KAMMI.

Menurut Rijalul Imam S. Hum. bahwa kader muslim negarawan harus memiliki lima elemen kunci yaitu : Pertama, memiliki basis ideologi Islam yang mengakar yaitu islam menjadi titik tolak pergerkan adalah ideologi yang mewarnai pergerakan dan kebijakannya serta hanya menggunakan Islam sebagai landasan dan kaidah perjuangannya. Kedua, memiliki basis pengetahuan dan pemikiran yang mapan yaitu ia berpikir dan bertindak berdasarkan pengetahuan ilmiah dan pemikiran yang mapan, tidak bergerak secara emosional tetapi bergerak dengan penuh argumen yang lengkap dan solid. Ketiga, Idealis dan konsiten artinya seorang Muslim Negarawan harus berpikir, berniat dan bertindak berangkat dari nilai-nilai ideal dan kepentingan sesaat dan tidak mudah menjual diri pada kepentingan pragmatis.

Keempat, Berkontribusi pada pemecahan problematika umat dan bangsa. Artinya bahwa Muslim Negarawan tidak menjadi beban dan masalah bagi umat dan bangsa, justru sebaliknya ekspresi kader Kader KAMMI dalam pikiran, niat, dan tindakan diarahkan untuk memecahkan perbaikan umat dan bangsa.Kelima, Mampu menjadi perekat komponen bangsa pada upaya perbaikan artinya kader KAMMI bukanlah musuh bagi pihak tertentu, gerakan atau institusi lainnya, tetapi KAMMI dapat memainkan peranannya dalam merekatkan komponen bangsa untuk kemudain bersama-sama dalam upaya perabikan dan pembangunan bangsa.

Menunggu Kiprah KAMMI sebagai gerakan ekstra parlementer dalam pengawalan Pemilu 2009.

Dalam Muktamar VI KAMMI tanggal 3 – 9 November, KAMMI mengusung tema ” Muslim Negarawan: Spirit Kebangkitan Bangsa. KAMMI sebagai gerakan ekstra parlementer tentu saja, memandang bahwa pemilu 2009 sudah saatnya menjadi momentum bagi bangsa ini untuk mencari sosok muslim negarawan. Inilah yang sosok pemimpin yang coba KAMMI tawarkan kepada masyarakat. Selanjutnya KAMMI, tetap akan mengawal segala proses pemilu 2009 untuk berupaya memberikan pendidikan politik bagi masyarakat serta mengusahakan agar kualitas dan output dari proses pesta demokrasi bangsa ini bisa menjadi lebih baik. Dan ini kita titipkan pada pengurus KAMMI periode mendatang.

Thursday, October 23, 2008

Kontroversi Seputar RUU Pornografi

(oleh : Arif Atul M Dullah)

Beberapa pekan terakhir atau bahkan sejak beberapa bulan yang lalu kita sudah sering menyaksikan di media-media baik media lokal atau pun media nasional berita tentang akan segara disyahkannya RUU pronografi oleh DPR. Lantas muncul bermacam reaksi terhadap pantas atau tidaknya RUU tersebut baik oleh individu maupun kelompok. Beberapa aksi massa pun terjadi, baik itu dari kalangan yang menolak RUU tersebut namun tidak sedikit juga yang mendukung RUU tersebut.

Ada yang kemudian meneriakan penolakannya dengan alasan bahwa Negara ini bukan Negara Islam, Negara ini sangat multi agama, multi etnis, budaya nya pun berbeda. Sehingga UU tersebut tidak pantas di syahkan Ada juga yang mengatakan bahwa UU tersebut akan dapat menyebabkan terjadinya disintegrasi bangsa, menghilangkan kebudayaan seperti di Papua dengan budaya koteka-nya misalnya. Dan masih banyak alasan lainnya.

KAMMI sebagai sebuah organ kesatuan Aksi memandang bahwa RUU tersebut adalah sebuah keniscayaan untuk segera di syahkan. Hal ini ditandai dengan Aksi-Aksi yang mereka lakukan untuk mendesak DPR segera mengesahkan RUU tersebut. Baik itu dengan membawa bendera KAMMI sendiri atau juga melakukan aksi gabungan dengan beberapa organ lain seperti yang baru-baru di laksanakan dengan nama “Aliansi Masyarakat Sul-Sel Peduli Moral Bangsa” dengan menggandeng kurang lebih 31 elemen gerakan baik Organisasi kemahasiswaan, LSM, dll.

Ada beberapa catatan KAMMI yang bisa menjadi gambaran sikap KAMMI terhadap RUU tersebut. Pertama, UU tersebut adalah sebuah kebutuhan. Bukan pada masalah bahwa bangsa ini adalah multi agama, multi etnis dengan budaya yang berbeda sehingga tidak dapat diterapkan di Negara ini. Masalahnya bukan pada bahwa Negara ini mayoritas penduduknya adalah Muslim sehingga UU tersebut harus segera ada. Tetapi, memang Undang-Undang tersebut memang harus ada untuk membendung arus Pornografi dan Pornoaksi sehingga dapat menyelamatkan moralitas masyrakat Indonesia terutama para pemuda yang notabenenya adalah generasi penerus kepemimpinan bangsa.

Kedua,ttindakan kekerasan seksual yang banyak kita saksikan baik itu di media atau pun mungkin terjadi disekitar kita, ada anak yang menghamili ibunya, ada seorang kakak menghamili adik kandungnya sendiri dan sebagainya, salah satu penyebab utamanya adalah akibat mereka sering menyaksikan film-film porno, dsb. Sehingga Undang – Undang ini perlu ada untuk membatasi semua media dan sarana pornografi.

Ketiga, bahwa UU tersebut dapat menghilangkan beberapa budaya di negeri ini sebut sajalah koteka di Papua, atau bahkan dapat menyebabkan terjadinya disintegrasi bangsa adalah hal yang sangat tidak beralasan. Karena dalam UU tersebut tidak ada satu pasal pun yang kemudian dapat menghilangkan kebudayaan tertentu. Karena selama budaya tersebut berada pada wilayahnya, misalnya budaya koteka di Papua dilaksanakan disana, tentu saja itu bukanlah hal yang bersifat pornografi. Kecuali hal tersebut, di gunakan di luar wilayah Papua maka hal tersebut telah bersifat tindakan pornografi

Keempat, hampir seluruh fraksi (kecuali 2 fraksi, PDIP dan PDS) yang ada di DPR sebelumnya setuju untuk segera disyahkannya UU tersebut. Namun, belakangan sisa dua fraksi yang mendukung disyahkannya RUU tersebut (PPP dan PKS). Ada banyak muatan potitis terkait dengan PEMILU 2009, salah satunya mungkin ketakutan fraksi – fraksi tersebut kehilangan suara pemilih pada Pemilu 2009. Mereka lupa bahwa mereka adalah wakil-wakil rakyat yang punya tanggung jawab untuk menyelamatkan Generasi Muda bangsa, hari ini, besok dan untuk jangka waktu yang akan datang. Seharusnya, bukan kepentingan sesaat Politik Partai mereka. Tapi, mereka harus berpikir lebih jauh, tentang masa depan bangsa ini. Ketika, seharusnya anak muda, generasi muda bangsa ini menyibukkan diri dengan agenda-agenda dan prestasi yang membanggakan. Namun, ternyata mereka terpaksa melakukan tindakan kekerasan seksual, menghabiskan waktu hanya dengan menonton film-film porno di kamar mereka, dsb.

Friday, August 29, 2008

Marhaban yaa Ramadhan

0leh ; Arif A. M. Dullah
Bagi setiap orang utamanya bagi setiap manusia muslim bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang tidak asing lagi. Sebab bulan ini setiap tahunnya dilalui, setiap tahunnya ribuan bahkan jutaan umat islam melaksanakan ibadah puasa, sebab dalam bulan ini ladang amal terbuka lebar, ladang meraih pahala sebanyak-banyaknya begitu luas. Karena bulan ini, didalamnya terdapat satu malam yang disetarakan oleh Allah dengan seribu bulan. Makanya dalam tiap ibadah di bulan mendapatkan pahala dan keutamaan yang berlipat ganda disisi Allah.

Tapi, dibalik itu semua ada sebuah fenomena unik yang kemudian menjadi tren yang sudah sangat luas dikalangan masyarakat. Kalau kita mengamati lebih jauh, maka ketika kita berjalan-jalan ke mal-mal atau tempat - tempat umum yang secara umum bisa kita sebut sarana-sarana lain yang mengelola produk barang dan jasa.

Sebulan sebelum masuknya bulan ramadhan, maka di mal - mal dan tempat-tempat perbelanjaan lainnya sudah sangat sibuk untuk mempersiapkan diri dalam rangka menyambut bulan tersebut. semua ruangan, setiap sudut di mal dihiasi dengan segala macam bentuk asesoris yang mampu menciptakan bahwa suasana Ramadhan benar-benar dirasakan di tempat tersebut.

Hal ini memang tidak salah, bahkan bisa dikatakan baik. Tapi yang menjadi pertanyaan kita selanjutnya adalah apakah muslim yang ada telah mempersiapkan diri secara maksimal untuk memasuki bulan tersebut, Jangan sampai mal-mal tersebut lebih siap untuk memasuki bulan ramadahan dibandingkan dengan kita sebagai muslim.

Silahkan kita evaluasi diri kita...... Marhaban yaa Ramadhan......Selamat melaksanakan ibadah puasa kepada seluruh KAMMIER`S dan civitas Unhas......Raihlah keutamaan-keutamaan dibulan ini

Wednesday, May 21, 2008

Aksi Kenaikan BBM VS BLT

"Mahasiswa aksi lagi, jalan macet, kita gak bisa kerja dengan lancar, yah...kalau BBM naik harga -harga juga ikut naik" ucap salah seorang supir pete2 kampus.
Kenaikan BBM memang sering menyisakan banyak cerita. Ungkapan sang sopir diatas mungkin dapat mewakili perasaan supir pete2 lainnya, ibu-ibu, dan semua orang yang terkena imbas kenaikan BBM di negeri ini, juga menjadi gambaran tentang pemahaman masyarakat dibangsa ini.

Mahasiswa yang katanya agent control selalu menjadi komponen yang paling awal bereaksi terhadap kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah termasuk harga BBM ini. Mereka dengan semangat memperjuangkan nasib rakyat harus "turun kejalan" melakukan aksi kenaikan BBM, mungkin dengan meninggalkan kuliah, berpanas-panas dibawah matahari, haus, dahaga dan mungkin juga terkena pentungan aparat keamanan.

Namun ada hal yang sebenarnya menjadi permasalahan yang jauh lebih besar yaitu ditengah aksi mahasiswa turun ke jalan masyarakat berlomba-lomba mengurus kartu BLT (bantuan langsung tunai) dari pemerintah. Inilah masalahnya.
Mahasiswa yang turun ke jalan untuk memperjuangkan nasib rakyat ternyata seolah hanya memperjuangkan nasib mereka sendiri. Di tengah besarnya gelombang aksi menentang kenaikan BBM, gelombang masyarakat untuk mendapatkan kartu BLT mungkin jauh lebih besar dari itu.

Hal inilah yang seharusnya kita tuntaskan di bangsa ini. Bangsa ini ternyata masih banyak dihuni oleh orang-orang yang hanya memikirkan bagaimana ia bisa hidup dulu hari ini. Tidak lebih dari itu. mereka begitu mudah "dibayar" dengan harga ratusan ribu untuk sebuah kebijakan yang sebenarnya sangat menyengsarakan mereka.

Masyarakat di negeri ini, masih harus disadarkan terlebih dahulu, tentang arti harga diri, arti kemanusiaan, arti makan, arti segalanya. Mereke belum memahami hakekat itu, bahwa hidup ini bukan hanya makan, bahwa hidup bukan hanya sehari, karean hidup ini lebih dari nilai-nilai itu. Proses penyadaran masyarakat memang harus selalu digalakkan.

Kepada teman-teman yang sering turun aksi, salam untuk semuanya. Perjuangan itu sudah harus melihat kepada hal lain. tentang proses penyadaran masyarakat akan hakekat kemanusiaan. bahwa mereka memiliki jati diri sebagai bangsa yang kaya. Bangsa yang melimpah sumber dayanya.
Penulis : Arif Atul M Dullah_Humaz

Thursday, December 6, 2007

KEPEMIMPIAN EFEKTIF DITENGAH MASYARAKAT

BAB I

P E N D A H U L U A N

A, LATAR BELAKANG

Saat ini, Salah satu krisis besar yang dialami masyarakat Indonesia, Khususnya Masyarakat Sul-Sel, dan terkhusus lagi bagi masyarakat muslim Sulawesi Selatan adalah krisis kepemimpinan. Para pemimpin saat ini, gagal menciptakan apa yang menjadi hal yang dibutuhkan oleh masyarakat. Sosialisme – Kapitalisme, yang sangat di bangga-banggakan saat ini, telah banyak menimbulkan permasalahan yang sudah semakin kompleks bukan hanya pada skala lokal bahkan pada skala yang mengglobal.

Para Pemimpin tersebut –para pemimpin muslim pun- gagal menciptakan pertama, keadilan (`al `adl) dan kedua, kondisi-kondisi bagi terwujudnya kebajikan dan keseimbangan atau pengetahuan dalam masyarakat mereka.

Tidak ada ilmuwan politik atau sosial dengan gengsi tinggi –yang dibesarkan dalam tradisi sekuler atau liberal Barat- yang menganggap Al Qur`an sebagai penjelasan tentang perilku politik. Para Ilmuwan sosial Muslim sendiri pun masih terpesona dengan teori – teori kepempinan Barat.

Hal ini terjadi karena, kepemimpinan yang ada merupakan kepemimpinan politik yang dalam hal perilaku, ide dan prakteknya jauh dari nilai-nilai ideal kepemimpinan Islam- seperti yang dijelaskan di dalam Al Qur`an dan seperti yang di contohkan oleh Muhammad SAW. Jika Kepemimpinan saat ini dijalankan mendekati ideal sebagaimana yang pernah Rasulullah SAW contohkan maka friksi-friksi yang ada dalam masyarakat akan semakin berkurang.


B. RUMUSAN MASALAH

Masalah yang bisa penulis kemukakan disini adalah bahwa pemimpin saat ini memposisikan dirinya hanya sebagai raja bukan menjadikan / memposisikan dirinya sebagai Khalifah yang memberikan rasa adil bagi masyarakat dan sebagai pelayan masyarakat. Sedangkan masyarakat menjadi orang – orang yang tidak memiliki posisi apapun dan tidak mampu memberikan kontribusi dalam pelaksanaan tujuan yang ada.

C. BATASAN MASALAH

Pemimpin dan Masyarakat seperti apa yang dibutuhkan oleh masyarakat Sul-Sel demi terwujudnya masyarakat Madani Sul-Sel


BAB II

P E M B A H A S A N

Kepimpinan, sebagaimana yang selalu terbukti berulang-ulang dalam sejarah, memberikan porsi tersbesar bagi masalah yang dihadapi setiap bangasa atau sebaliknya, kemajuann yang merkea ciptakan dalam seluruh potongan sejarah mereka.

Ideologi, agama, nilai-nilai pengetahuan dan system hanyalah kumpulan benda-benda mati sampai ia mendapatkan tiupan ruh kehidupan dari para pemimpin. Kita dapat merumuskan ratusan bahkan ribuan solusi teknisi untuk krisis kita saat ini, tetapi tidak satu pun dari solusi tersebut akan mampu mengubah kondisi kita secara efektif kecuali bila dijalankan oleh pemimpin yang andal

Kepemimpinan yang kuat dan baik tidaklah menjadi jhaminan utnuk dapat teratasinya kesulitan – kesulitan yang ada, tapi kepimpinan yang kuat dan baik memastikan bahwa solusi strategis dan teknis yang kita rumuskan dpapat bekerja secarat benar dan efektif. Itulah kunci penyelesain maslaahnya. Tapi itulah kunci masalah kita : itulah krisis dibalik semua krisis yang kita alami : krisis kepemimpinan.

Dalam hal ini, kepemimpinan yang efektif yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang sedang membutuhkan pemimpin yang dapat mengarahkan kehidupan mereka yang lebih berarti minimal pemimpin tersebut memiliki empat Kriteria yaitu :

Pertama, fungsi direksi dan inpirasi. Para pemimpin tersebut harus dapat merumuskan arah dan tujuan secara jelas, sederhana dan benar. Dimana pada saat yang sama ia harus mampu memberikan inspirasi bagi masyarakat yang sedang bingung dan gamang. Arah yang dimaksudkan disini adalah kemampuan untuk memberikan kepastian kepada masyarakat dan inspirasi yang kami maksud adalah agar masyarakat bisa ikut serta dalam pencapaian tujuan bersama.

Kedua, fungsi pembangun kekompakan (solidarity maker). Bangsa yang mengalami krisis mudah mengalami perpecahan karena hilangnya rasa saling percaya –rasa saling percaya antara pemimpin dan masyarakat, juga rasa percaya antara masyarakat dan masyarakat-. Sering kali potensi yang ada dalam masyarakat begitu besar, namun terkadang itu hanyalah lidi-lidi yang tidak memiliki makna karena tidak bisa disatukan oleh pemimpin mereka.

Ketiga, kamampuan teknis. Persoalan–persoalan yang ada dalam masyarakat saat ini terlalu rumit untuk dapat diselesaikan dengan retorika semata. Harus ada kompetensi teknis –dalam bentuk ilmu pengetahuan dan keterampilan kepemimpinan- yang memadai untuk dapat menjalankan roda pemerintahan dengan efektif.

Keempat, integrasi akhlak dan kepribadian. Inilah inti penting dari semua yang telah kami sebutkan diatas. Tiga fungsi di atas hanya akan efektif jika seorang pemimpin transisi memiliki integritas kepribadian. Dari sinilah datangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin. Dalam kondisi saat ini, tidak ada sesuatu yang lebih mahal dipertaruhkan seorang pemimpin selain kredibilitas dirinya di mata publik.

Keempat fungsi itulah yang sesungguhnya hilang dari pemimpinan saat ini. Bangsa kita mengalami krisis yang berkepanjangan ini jelas tanpa arah yang jelas karena pemimpin kita tidak pernah menetapkan arah pejalanan bangsa. Masalah-masalah ekonomi dan sosial tidak dapat terselesaikan karena dikelola oleh pemimpin–pemimpin yang tidak berpengetahuan dan tidak memiliki kecakapan kepemimpinan.

Yang lebih parah lagi, kondisi masyarakat saat ini berjalan tanpa adanya kepercayaan terhadap akhlak pemimpinannya. Pemimpin tersebut bukan hanya tidak berpengetahuan dan tidak kompeten tetapi juga pemimpin tersebut tidak dapat dipercaya secara moral.

Namun, hal ini pun masih belum dapat memberikan hasil yang maksimal jika tidak di dukung oleh kualitas masyarakat yang baik pula. Oleh sebab itu, masyarakat –khususnya manusia Muslim- harus direkonstruksi ulang dalam tiga tahapan rekonstruksi yaitu :

Pertama, harus ditata kembali afiliasinya kepada Islam sebab keislaman kaum muslim saat ini lebih banyak dibentuk oleh warisan sosial bukan oleh pemahaman dan kesadaran mendalam tentang islam. Keislaman dengan basis seperti ini membuat kaum muslimin tidak memiliki bobot sosial yang berat, tidak memiliki imunitas yang mampu membuatnya bertahan dari berbagai macam invasi budaya.

Kedua, setelah itu setiap muslim harus dibawa kedalam komunitas muslim yang besar dimana ia menjadi bagian dari masyarakat dan berpartisipasi dalam membangun masyarakat tersebut. Sehingga pada tahap pertama membentuk keshalehan individu maka pada tahap ini adalah membentuk keshalehan kolektif.

Ketiga, apabila kedua tahapan diatas telah tercapai maka pada tahap ini kita perlu menjamin bahwa setiap individu tersebut telah mencapai tingkat optimal untuk berpartisipasi dalam menjalankan agenda-agenda perbaikan dan pembangunan masyarakat.


BAB III

P E N U T U P

A. KESIMPULAN

Demi terwujudnya masyarakat madani Sulawesi Selatan maka ada beberapa hal yang harus dimiliki oleh Pemimpin dan Masyarakat Sul-Sel.

Pemimpin yang ada minimal memiliki empat kriteria yaitu memiliki fungsi direksi dan inpirasi, solidarity maker, kamampuan teknis, integrasi akhlak dan kepribadian.

Sedangkan masyarakat yang ada harus dibentuk untuk dapat memiliki keshalehan pribadi, keshalehan kolektif dan terakhir adalah kemampuan untuk memberikan secara optimal tenaganya untuk menjalankan agenda perbaikan masyarakat.

B. SARAN

Melalui tulisan ini penulis ingin memberikan beberapa saran bahwa seorang pemimpin, ia perlu turun secara langsung untuk melihat kondisi masyarakatnya, lihatlah seperti kepemimpinan seorang Abu Bakar Siddiq yang turun kerumah-rumah penduduknya hanya sekedar ingin melihat kondisi masyarakatnya.

Seorang Pemimpin harus dapat memberikan contoh keteladanan seperti Rasulullah SAW dimana tujuannya hanyalah Allah SWT dengan komitmen yang tinggi terhadap Islam, yang seimbang antara Mu`amalah dengan ibadah

Khendaknya pula seorang pemimpin adalah orang yang mau dan siap di kritik dan tidak merasa bahwa dirinya adalah segalanya sehingga orang lain dianggapnya tidak berguna. Serta menjadikan islam sebagai ideologinya


penulis: arif athul mahmudah